PENGERTIAN SASTRA KORAN


Sastra koran merupakan karya sastra yang berada pada sebuah kolom bacaan di koran. Salah satu contoh sastra koran adalah cerpen-cerpen berbahasa Indonesia yang biasanya muncul di koran-koran edisi Minggu di seluruh Indonesia, yang panjangnya berkisar antara 6-8 halaman kuarto (spasi-ganda), dan yang bercerita tentang peristiwa yang sedang menghangat dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Untuk bisa meloloskan suatu teks sastra di sebuah media cetak, paling tidak harus lolos dari pagar selera sang redaktur. Ini artinya, tidak bisa sembarang teks sastra bisa lolos dari persyaratan ketat yang ditetapkan oleh sang redaktur. Sastra koran memiliki batasan-batasan yang dikendalikan oleh otoritas sang redaksi dan selera pasar. Selain itu, koran juga mengenal batasan dimensi ruang dan waktu. Pembacanya hanya kebetulan mereka yang berlangganan dan dibatasi oleh waktu penerbitan. Untuk rubrik sastra dan budaya biasanya terbit setiap hari Minggu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sastra koran hanya sebatas penghibur bagi pembaca dalam ruang yang sempit.
Kehadiran sastra koran membuka jalan bagi para penulis untuk lebih bersemangat menuangkan ide-ide imajinya agar bisa di nikmati oleh para pembaca. Karena sastra akan menjadi lebih lengkap jika bisa di nikmati oleh orang dan menimbulkan interpretasi terhadap sastra tersebut. Sebagus dan sehebat apa pun sebuah teks sastra jika tidak ada media yang memublikasikannya, maka disadari atau tidak, teks tersebut hanya berada dalam kekosongan makna. Oleh karena itu, seorang penulis idealnya memiliki ruang publik untuk menginternalisasikan teks-teks ciptaannya kepada publik, salah satunya lewat media koran. Tapi, ada suatu hal yang menjadi masalah yang cukup bertolak belakang. Apa benar karya sastra yang dimuat di koran itu bermutu bagus dan menjanjikan untuk sebuah kemajuan sastra di indonesia? Tampaknya perlu adanya pengkajian ulang tentang kehadiran sastra koran itu. Terlebih lagi koran sesungguhnya bukanlah media sastra. Koran adalah media yang bersifat umum. Masih ada juga media yang khusu untuk ruang sastra horison, annida, jurnal cerpen, jurnal sastra dan lain-lain. Tetapi kenapa justru kedudukan koran bisa melebihi kedudukan media-media sastra yang lain?
Kehadiran koran dan media cetak memang turut punya andil dalam membesarkan nama-nama satrawan. Sebut saja koran Kompas yang kini telah menjadi tujuan utama para penulis untuk berlomba-lomba agar teks sastranya dapat di muat di media nasional tersebut. Tak heran jika ada yang bilang, jangan mengaku dirinya sebagai seorang pengarang apabila karyanya belum dimuat di koran nasional itu. Meskipun demikian, jangan menjadikan koran atau majalah menjadi sumber utama seseorang untuk menjadi seorang sastrawan. Bagaimanapun juga, koran atau majalah hanyalah salah satu jembatan antara penulis dengan pembaca pada khususnya. Namun, jika di runut kembali, kelebihan koran tersebut mampu menjadi bumerang bagi kemajuan sastra Indonesia ke depannya. Keberadaan media-media sastra lainnya seperti horison, annida, jurnal cerpen, jurnal sastra, dan lain-lain yang merupakan media-media khusu untuk lebih serius terhadap perkembangan sastra, akan menjadi terpinggirkan posisinya oleh koran, yang padahal jika membahas sastra hanya satu halaman saja. Sistem kapitalisme juga memungkin terjadinya hal tersebut. Jika korang menampilkan teks sastra, maka akan semakin banyak pembaca yang menjadi pelanggan koran tersebut. Terlebih mempunyai niatan menulis yang nantinya akan di muat di koran tersebut dan akan mendapatkan sebuah “jasa” dari tulisan itu. Tampaknya perkembangan arus bisnis juga menjadi salah satu faktor penyebabnya teks sastra dalam koran.
Media koran memiliki dua jalan yang berbeda bagi para penulis sastra. Untuk sastrawan yang sudah memiliki “singgasana” abadi, kehadiran sastra koran semakin mempermudah mereka untuk menyuarakan karya-karyanya sehingga semakin menambah keeksisan mereka dalam dunia sastra. Terlebih lagi jika mereka para penulis yang sudah mempunyai nama, maka tanpa melalui seleksi pun sudah hampir di pastikan karyanya akan di muat di koran tersebut. Sementara itu, hal yang bertolak belakang berlaku pada calon-calon sastrawan. Para penulis yang masih mencari sebuah jati diri karakter dalam tulisannya. Terlebih lagi jika hanya menulis yang nantinya akan mengaharapkan sebuah “jasa” dari redaksi. Jika mereka mengandalkan bahwa koran atau majalah adalah satu-satunya media publikasi, maka mereka sama halnya terkubur bersama mimpi-mimpinya ke dalam perkembangan zaman ini. Karena mereka hanya terpaku pada satu ruang yang sesungguhnya ruang tersebut telah mempersempit cara mereka dalam berimaji.
Apapun jalannya, itu menjadi sah jika ingin menjadi seorang sastrawan. Banyak juga sastrawan yang namanya menjadi tenar berkat dari koran atau majalah. Sebut saja H.B Yassin yang karya-karyanya kemudian di bukukan oleh penerbit. Kemampuannya yang mampu menembus pagar redaksi sastra-budaya di media cetak dalam memasyarakatkan obsesi visi dan estetisnya harus dipahami sebagai upaya untuk memperoleh legitimasi kepengarangan dan itu memang sangat perlu dilakukan oleh seorang pengarang.
Pada intinya sebagai penulis adalah melakukan menulis secara terus-menerus. Menuangkan ide-ide imajinatifnya ke dalam sebuah karya sastra. Untuk lebih memberikan warna dan juga penginterpretasian, maka sah saja bila karya tersebut di kirimkan ke sebuah media massa seperti koran. Namun, yang perlu di garis bawahi adalah koran bukan satu-satunya media yang mengangkat tentang sastra. Hanya saja karena perkembangan budaya dan juga globalisasi, menjadikan koran sebagai wadah sastra pada umumnya. Jika hanya terpaku pada dunia yang di tawarkan oleh koran, maka semakin lama penulis tersebut akan merasa monoton dengan apa yang dia tulis. Seperti ada yang menyetir alur dari ceritanya. Karena bagaimanapun juga tiap-tiap redaksi koran memiliki ketentuan tema dan juga model cerita yang berbeda-beda dan harus di ikuti oleh penulis jika ingin teks sastranya di muat ke dalam koran tersebut.

Demikian,semoga ini membantu….

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: